Ritual Beguru ala Sasak Warnai Peluncuran Program Belajar Aksara Guru Lauq Indonesia

Dr. Hanapi, M.Si

POROSRAKYAT.com
— Ritual beguru, penyembe’an, dan lantunan Serat Rengganis mewarnai peluncuran Program Belajar Aksara Sasak Hanacaraka yang digagas Guru Lauq Indonesia bersama Repoq Literasi. Perpaduan prosesi adat dan tradisi sastra lisan tersebut menghadirkan warisan budaya Sasak dalam ruang pembelajaran generasi muda.

Pengerakse Majelis Adat Sasak (MAS), Dr. Lalu Sajim Sastrawan, memimpin prosesi penyembe’an terhadap dua peserta didik yang dipilih secara simbolis, masing-masing seorang laki-laki dan seorang perempuan. Prosesi ini mengawali kegiatan sekaligus mempertemukan pembelajaran aksara dengan penghormatan terhadap tradisi masyarakat Sasak.

Perlengkapan ritual ditempatkan dalam bokor kuningan, wadah yang digunakan untuk menaruh andang-andang. Isinya meliputi beras, lekoq lekes, benang, gula, pisang, dan uang. Setiap unsur hadir dalam rangkaian adat yang mengiringi pembukaan program tersebut.

Doa turut mengiringi prosesi sebagai ungkapan harapan dan permohonan kepada Nenek Sak Kuase. Dalam konteks kegiatan ini, doa menyertai harapan agar proses belajar berlangsung lancar dan peserta memperoleh kebaikan dalam menuntut ilmu.

Dalam kehidupan masyarakat Sasak, ritual adat menjadi salah satu sarana pewarisan nilai dan pengetahuan budaya melalui tindakan simbolis serta keterlibatan masyarakat. Kehadiran andang-andang dan doa dalam peluncuran program memperlihatkan keterhubungan antara praktik tradisi dan pendidikan berbasis budaya.

Prosesi penyembe’an memberikan pengalaman budaya kepada peserta didik sejak awal kegiatan. Mereka berhadapan langsung dengan praktik adat yang masih dijaga masyarakat, kemudian memasuki ruang pembelajaran untuk mengenal aksara Sasak secara lebih terarah.

Founder Guru Lauq Indonesia, Dr. Hanapi, M.Si., mengatakan peluncuran program tersebut dirancang dengan melibatkan tradisi Sasak agar pembelajaran aksara lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

“Kita ingin generasi muda mengenal aksara Sasak melalui ruang belajar yang dekat dengan kebudayaan sendiri. Aksara, bahasa, sastra, dan adat merupakan bagian dari warisan yang perlu dipelajari dan diteruskan kepada generasi berikutnya,” ujar Hanapi yang juga Ketua SMSI Cabang Lombok Timur.

Menurut Hanapi, pelestarian aksara memerlukan kegiatan pembelajaran yang terarah dan berkelanjutan. Generasi muda perlu memperoleh kesempatan untuk mengenali bentuk huruf, mempelajari penggunaannya, serta memahami hubungan aksara dengan pengetahuan dan identitas budaya masyarakat Sasak.

Ia berharap kolaborasi Guru Lauq Indonesia dan Repoq Literasi berkembang menjadi ruang belajar yang terbuka bagi masyarakat. Dukungan tokoh adat, keluarga, komunitas literasi, dan lembaga pendidikan diperlukan untuk memperkuat kegiatan melalui kelas rutin, pendampingan, serta penyediaan bahan ajar.

“Kita berharap program ini tumbuh menjadi kegiatan belajar yang berkesinambungan. Generasi muda perlu mengenal aksara Sasak, memahami nilai budayanya, dan memiliki kebanggaan untuk ikut menjaga warisan tersebut,” katanya.

Nuansa tradisi berlanjut melalui tembang pengantosan yang melantunkan Serat Rengganis. Penampilan ini menghadirkan sastra lisan dalam kegiatan literasi sekaligus memperkenalkan kekayaan ekspresi budaya Sasak kepada peserta.

Serat Rengganis merupakan bagian dari khazanah sastra tradisional Sasak yang diwariskan melalui tradisi penuturan dan penembangan. Keberlangsungannya berkaitan dengan penguasaan bahasa, praktik menembang, serta keterlibatan masyarakat dalam meneruskan karya sastra antargenerasi.

Tradisi menembang dan pembelajaran aksara menempuh jalur pewarisan yang berbeda, tetapi dapat saling melengkapi dalam penguatan literasi budaya. Tembang mempertahankan karya sastra melalui suara dan pertunjukan, sedangkan aksara menjadi sarana untuk membaca dan menulis.

Perpaduan keduanya memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk mengenal kebudayaan melalui pengalaman mendengarkan tembang, memahami bahasa, serta berlatih membaca dan menulis aksara. Pengalaman tersebut memperkuat pemahaman tentang hubungan antara bahasa, sastra, adat, dan identitas masyarakat Sasak.

Hanapi menilai pembelajaran yang berakar pada kehidupan budaya dapat menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap warisan leluhur. Ia berharap peserta didik terdorong untuk terus menggali pengetahuan lokal, termasuk aksara dan sastra tradisional.

Peluncuran yang diiringi ritual beguru, penyembe’an, doa, dan pelantunan Serat Rengganis menjadi langkah awal Guru Lauq Indonesia dan Repoq Literasi dalam mempertemukan adat, spiritualitas, sastra, dan pendidikan melalui gerakan literasi budaya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kantah Dompu Ajak Pemuda Rawat Persatuan dan Berkontribusi bagi Bangsa

Pemkab Lombok Timur Optimistis Data Bansos dan PBI JK Diperbarui